Menyalahkan Tidak Akan Pernah Menyelesaikan Masalah

Reportaseterkini.net - “Kemenangan sejati Bukan Sekadar angka-angka, prestasi-prestasi, tapi yang lebih penting adalah bagaimana menyikapi setiap kegagalan dan kemenangan dengan arif dan bijaksana.”


Jiwa patriotisme dan semangat sportivitas sering kali di gelorakan dalam berbagai aktivitas sehari-sehari. Mulai dari kompetisi tingkat bawah hingga International , sampai pesta demokrasi yang dihelat setiap lima tahun sekali. Yang kalah harus legowo dan yang menang  jangan jumawa. Namun sikap kesatria semacam ini tidak semudah membalikan telapak tangan. Sebab ungkapan agar kita bersikap sportif dalam setiap aktivitas acap tidak cocok dengan kenyataan. Kita malah gampang menyalahkan pihak lain akibat kekalahan. (kegagalan, ketidaksuksesan) yang menimpa kita.

Dalam kondisi tertentu ada kegagalan yang mungkin akibat unfair play, tapi dalam setiap kegagalan sebaiknya kita tidak perlu membuang waktu untuk selalu menyalahkan pihak lain. Tapi kita perlu melakukan koreksi internal untuk memperbaiki diri.

Pada tahun ketiga hijrah pasukan muslim telah bersiap menghadapi tentara musyrikin Makkah dipimpin Abu Sufyan  dengan bala tentara sebanyak 700-an personel sementara dari pihak kafirin berjumlah 3000-an Perang ini terjadi di bukit Uhud yang terletak 4 mil dari Masjid Nabawi dan mempunyai ketinggian 1000 kaki dari permukaan tanah dengan panjang 5 mil.

Dalam perang tersebut kaum muslimin meraih kemenangan. Sayangnya, tatkala kaum musyrikin terbirit dan meninggalkan hartanya, sebagian tentara muslim tergiur untuk merebutnya. Sebagian mereka yang berjaga diatas bukit Uhud turun ke lembah untuk mengambil hak rampasan.

Situasi itu dimanfaatkan pasukan musyrikin yang tersisa untuk berbalik menyerang. Serangan balik yang dipimpin Khalid ibn Walid yang kemudian menjadi panglima Islam memorak porandakan pasukan muslim. Akhirnya sebagian mereka syahid bahkan Rasulullah saw, pun terluka. Konon pasukan Islam yang syahid berjumlah 70 orang sedang pasukan kafir berjumlah hanya 23 orang. Di antara mereka ada Hamzah, paman Rasulullah Saw.

Thabrani menceritakan.”Ketika kaum musyrikin telah meninggalkan medan perang Uhud, wanita-wanita sahabat keluar untuk memberikan pertolongan kepada kaum muslimin. Di antara mereka yang keluar terdapat Fatimah. Ketika bertemu Rasulullah saw. Fatimah memeluk dan mencucui luka-lukanya dengan air, sehingga darah semakin banyak keluar. Tatkala Fatimah melihat hal itu, dia mengambil sepotong tikar, lalu membakar dan membubuhkannya pada luka itu sehingga melekat dan darahnya berhenti keluar.”

Atas kekalahan tersebut Rasulullah saw, tidak serta menyalahkan pasukan apalagi memarahinya dengan segudang alasan. Kalian salah! Pokoknya salah! Dasar tidak taat aturan! Tidak Rasulullah saw, tidak pernah melontarkan kata kata itu. Beliau berusaha untuk lapang dada dan mengevaluasi atas apa yang terjadi. Beliau paham setiap kejadian pasti ada hikmahnya. Beliau mengerti, menyalahkan pasukannya tidak akan menyelesaikan masalah. Tidak lama kemudian turunlah ayat yang menggambarkan tentang kekalahan mereka karena sebagian diantaranya terlalu mengharap jasa duniawi, kendati Allah telah memaafkannya.

“Dan sesungguhnya Allah telah memenuhi janji-Nya kepada kamu, ketika kamu membunuh mereka dengan izin-Nya sampai pada saat kamu lemah dan berselisih dalam urusan itu dan mendurhakai perintah (Rasul) sesudah Allah memperlihatkan kepadamu apa yang kamu sukai. Diantara kamu ada orang yang menghendaki dunia dan di antara kamu ada orang yang menghendaki akhirat. Kemudian Allah memalingkan kamu dari mereka untuk menguji kamu, dan sesungguhnya Allah telah memaafkannnnnnn kamu. Dan Allah mempunyai karunia (yang dilimpahkan) atas orang-orang yag beriman.” (Ali Imran: 152)

Begitu Rasulullah Saw. Sebagai pemimpin pasukan dalam bersikap. Sukses atau gagal dalam hidup adalah hal yang biasa. Sebagaimana pertandingan olah raga yang mengharuskan adanya pihak yang kalah dan menang. Namun kemenangan sejati bukanlah sekadar angka-angka, pretasi-prestasi, tapi yang lebih penting adalah bagaimana menyikapi setiap kegagalan dan kemenangan tersebut dengan arif dan bijaksana. Jangan sampai kekalahan membuat kita putus asa dan jangan pula kemenangan membuat kita jumawa. Jika terjadi demikian, kita tidak akan pernah merasakan kemenangan yang haikiki dalam hidup. [reportaseterkini.net]

Subscribe to receive free email updates:

Baca Juga :
loading...