Dari Masjid Kekuatan Itu Di Bangun

Reportaseterkini.net - “Jika kamu melihat orang rajin mendatangi masjid, maka persaksikanlah ia sebagai orang yang beriman.”


Rasulullah saw. Bukanlah yang suka hidup bermewah-mewah, rumahnya kecil, tidak seperti istana para raja. Aisyah r.a mengungkapkan,”Seungguhnya hamparan tempat tidur Rasulullah saw, terdiri atas kulit binatang , sedang isinya adalah sabut kurma.

Sementara dalam Kitab Shahih Adabul Mufrad karya Imam Bukhari Disebutkan bahwa Daud Bin Qais r.a berkata,”Saya melihat kamar Rasulullah saw, atapnya terbuat dari pelepah kurma yang terbalut dengan serabut, saya perkirakan lebar rumah ini, kira-kira 6 atau 7 hasta, saya mengukur luas rumah dari dalam 10 hasta, dan saya kira tingginya antara 7 dan 8, saya berdiri di pintu Aisyah saya dapati kamar ini menghadap maghrib (marocco).

Rasulullah saw, bukannya tidak mampu membangun rumah mewah untuk keluarganya, tapi beliau adalah pribadi yang tahu diri dan tidak suka bermegah-megah. Faktanya banyak orang yang membangun permukiman dengan dana selangit sehingga malas untuk melakukan aktivitas di luar rumah, termasuk melakukan ibadah shalat berjamaah di masjid.

Rasulullah saw. Memberi teladan kepada kita betapa beliau adalah pribadi yang bahagia dengan kebersamaan, membangun jaringan, menemui relasinya dengan menjadikan masjid sebagai sentral dakwah. Masjid inilah yang beliau ‘besarkan’ sebagai tempat untuk menyusun kekuatan dan memprkokoh persaudaraan kaum muslimin. Sampai beliau pernah memberi motivasi kepada para sahabat, “Barangsiapa yang berwudhu dirumahnya, kemudian dia pergi menuju masjid untuk menunaikan shalat fardhu, maka kedua langkahnya dihitung yang satu untuk menghapus dosa dan yang lainnya untuk mengangkat derajatnya satu tingkat.”

Para sahabat Rasulullah saw, rela berjalan kaki menuju masjid meski jaraknya jauh mengingat keutamaannya yang besar. Abdullah bin Abbas r.a menceritakan,”Permukiman kaum An-shar sangat jauh dari masjid, lalu mereka ingin agar dekat dengannya, maka turunlah ayat,”Dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan.” (Yaasin: 12). Akhirnya, mereka tetap tinggal di pemukiman mereka (tempat tinggal semula yang jauh dari masjid).”

Itulah sebabnya tatkala hijrah ke Madinah, langkah strategi beliau adalah membangun masjid sebagai pusat kegiatan umat. Letaknya sekitar 5 Km di sebelah tenggara kota madinah, yang kemudian dikenal dengan masjid Quba. Saat itu masyarakat benar-benar memakmurkan masjid, bukan sekadar menjadikannya sebagai shalat berjamaah, tapi sebagai sarana membangun kekuatan Islam, mulai dari menuntut ilmu, mengatur strategi perang, hingga merumuskan kehidupan politik dan pemerintahan.

Dalam Al-Qur’an, Allah menyebut orang yang senantiasa memakmurkan masjid merupakan cirri orang yang beriman.”Hanya-lah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut(kepada siapapun) selainkepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.(At-taubah: 18). Sementara dalam hadits  dikatakan,”Jika kamu melihat orang rajin mendatangi masjid, maka persaksikanlah ia sebagai orang yang beriman.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi).

Salah satu manfaat sosial jika kita senantiasa memakmurkan masjid dan mendatanginya untuk melakukan kegiatan keagamaan adalah saling mengenal satu sama lain. Semakin sering kita bergaul dengan sahabat, teman, dan kaum muslimin yang lain, semakin banyak kita belajar berbagai macam karakter kepribadian orang lain yang secara tidak langsung dapat menciptakan peluang baru sekaligus membangun tim kerja yang handal untuk menggapai tujuan yang kita harapkan. [reportaseterkini.net]

Subscribe to receive free email updates: