Sifat Sifat Suami yang Membahagiakan Istri (Bagian 2)

Reportaseterkini.net - Selalu Memandang Kehidupan Bersama Istri dengan Satu Kacamata
Dua oarang yang menikah adalah menyatukan visi dan misi agar tercapai tujuan bersama. Berbagai perbedaan latar belakang dari masing-masing harus memandang kehidupan bersama istrinya dalam kacamata visi misi hidup mereka berdua. Tidak bisa memandang kehidupan rumah tangga kedua dari kacamata orang lain. Sebab tujuan hidup tak akan pernah tercapai.


Membantu Istri
Banyak suami yang merasa bahwa tugasnya hanya bekerja untuk mencari uang dan seluruh pekerjaan rumah tangga adalah pekerjaan istri sehingga dia enggan untuk membantu istri. Ssat melihat rumah berantakan dia langsung menyalahkan istri namun dia hanya santai-santai nonton tv tanpa membantu sama sekali.

Padahal kalau kita lihat perilaku Rasulullah saw di dalam rumah, ternyata beliau biasa membantu pekerjaan rumah tangga.
Diriwayatkan dari Al Aswad bin Yazid, ia berkata, aku pernah bertanya pada Aisyah, “ Apakah yang biasa dilakukan Rasulullah di dalam rumah? Aisyah menjawab, “ Beliau biasa membantu keluarga, apabila mendengar seruan adzan ia segera keluar (untuk menunaikan shalat) “. (HR.Muslim)

Bantulah istri kita, kita akan tahu betapa berat dan lelahnya pekerjaan istri setiap hari. Kalau perlu tiap hari kita ambil bagian, misalnya saja mencuci piring tiap pagi adalah tugas kita atau memyetrika adalah tugas kita, kita kerjakan kalau malam.

Percayalah, istri akan merasa senang dan lebih respect atau hormat kepada kita, alangkah bahagianya istri mempunyai suami yang pengertian.

Melupakan Kekurangan Istri, Dan Mengingat Kelebihannya
Hendaknya sang suami mengingat kebaikan-kebaikan istrinya, mengingat kelebihan-kelebihan yang dimiliki istrinya terutama tatkala sang suami sedang marah. Sesungguhnya hal ini membantunya untuk meredakan kemarahannya dan melatihnya berbuat adil tatkala menghukum sikap istrinya. Syaikh Ibnu Utsaimin berkata : “ Hendaknya seseorang tidak marah karena segala perkara, karena pasti akan timbul kekurangan (kesalahan). Bahkan ia sendiri mesti berbuat kesalahan, dan tidaklah benar bahwasanya ia sempurna dala segala hal. Jika demikian maka istrinya lebih utama untuk melakukan kesalahan. Dan juga wajib bagi seseorang untuk menimbang keburukan dengan kebaikan.
Sebagian istri jika suaminya sakit maka ia tidak akan tidur semalam suntuk untuk menjaga suaminya, ia juga taat kepada suaminya dalam berbagai perkara. Kemudian jika sang suami menceraikannya maka kapan ia akan menikah lagi? Jika ia nikahpun bisa jadi ia akan mendapati istri yang lebih buruk dari istri yang sebelumnya “. ( Asy Sharhul mumti’XII?385)

Rasulullah saw besabda : “ Janganlah seorang mukmin benci kepada seorang wanita mukminah (istrinya), jika ia membenci sebuah sikap (akhlak) istrinya maka ia akan ridho dengan sikap (akhlaknya) yang lain “. (HR.Muslim)

Mendengar kritikan Istri dengan Lapang Dada
Seorang suami meskipun menjadi kepala rumah tangga, namun ia tak selamanya benar. Pasti ada beberapa kebijakannya yang tidak bisa diterima anggota keluarga. Seorang istri sebagai wakil dari anak-anaknya biasanya akan mengingatkan atau mengkritik suami.

Nah, seorang suami yang bijak pasti akan mendengarkan segala masukan dan kritikan sang istri dengan lapang dada. Kemudian ia introspeksi diri untuk memperbaiki kesalahannya yang lalu demi kebaikan masa depan rumah tangganya. Ia tak akan dendam ataupun menyimpan kebencian kepada istri atas masukan atau kritikan yang lalu.

Tahu Apa yang Membuat Pasangan bahagia
Suami yang baik tahu apa yang membuat istrinya bahagia, demikian pula sebaliknya. Hal-hal yang membuat istri bahagia ada kalanya sederhana sekali. Tidak selalu berupa uang atau harta yang berlimpah, tapi mungkin saja hanya berupa sikap mesra, kejujuran, atau perhatian khusus.

Istri yang peka, tahu kapan suami bahagia, demikian sebaliknya. Bila suami atau istri mampu membahagiakan pasangannya, niscaya perkawinan mereka akan langgeng.

Tidak Hitung-Hitungan
Banyak pasangan muda yang mengatakan mereka harus fifty-fifty dalam berumah tangga. Tapi ahli perkawinan menyatakan, masing-masing harus memberi 150%. Dalam hubungan suami istri yang serasi , pasangan harus memberi apa yang bisa mereka berikan. Mereka tidak boleh menghitung dengan teliti dan tidak harus respek terhadap apa yang harus diberikan pasangannya.

Pasangan yang bahagia tidak hitung-hitungan tentang siapa yang paling mengurus rumah, siapa yang paling banyak mencari uang. Tapi bila pasangan sangat kaku dalam berbagi,misalnya selalu menghitung berapa piring yang sudah dicuci suami, berapa jumlah popok yang sudah diganti istri, berapa kilometer suami sudah menyetir, cepat atau lambat perkawinan terasa sebagai beban. [reportaseterkini.net]

Baca Juga ->> Bagian 1

Subscribe to receive free email updates:

Baca Juga :
loading...