Dalam Pandangan Islam ini Hukumnya Menonton Acara Televisi

Reportaseterkini.net - Menonton Acara Televisi yang Negatif. Televisi merupakan bencana yang telah memasuki setiap rumah. Banyak orang gemar menontonnya. Akibatnya, merebahkan kerusakan ditubuh umat hingga mencapai tingkat yang sangat mengkhawatirkan. Perampasan, keluarnya wanita dengan dengan penampilan yang vulgar, hubungan terlarang, merebaknya korupsi, lagu-lagu, perkataan yang jorok, kedurhakaan, dan lainnya yang kita saksikan saat ini disebabkan oleh ‘ media televise perusak’. Televisi dapat merusak ajaran agama mereka melalui tontonan yang vulgar, wanita-wanita berpenampilan porno, dan laki-laki yang berbicara dengan kata-kata penuh asmara dan vulgar. Demikian pula dengan alunan music dan berbagai bentuk kemaksiatan lainnya.


Lantas, apa hukum media informasi ini? Dalam fatwa-fatwa Al-lajnah, Al-‘ Ammah li idaratil Buhuts Al-‘Ilmyyah wal ifta’ wad da’wah wal irsyad kerajaan Arab Saudi, disebutkan baha menonton televise boleh jika yang didengar dan dilihat tidak terlarang, seperti bacaan Al-Quran, pengajian, informasi bisnis, dan berita-berita politik. Akan tetapi, menontonnya menjadi dilarang jika dilihatnya adalah hal-hal yang terlarang , seperti lagu-lagu seronok, kata-kata yang jorok, dan suara-suara penyanyi wanita meskipun lagunya tidak seronok , dan nyanyian laki-laki yang mendayu-dayu Dallam melantunkan lagunya, atau dengan penampilan seperti wanita.

Kesimpulannya, hukum menonton televisi itu mengikuti hukum apa yang ditonton, baik halal maupun haram. Bisa saja siaran televisi  yang awalnya dibolehkan, kemudian dilarang karena terlalu berlebihan dan menghabiskan waktu hanya  untuk itu  saja. Namun demikian, kadang orang sangat perlu untuk menonton televisi  terkait hal-hal yang member manfaat baginya, keluarganya, dan umat. Yang lebih selamat adalah tidak menonton televise, karena televisi itu bisa mmenjadi saran melihat dan mendengar sesuatu yang diharamkan.

Syaikh Abdullah Ulwan mengatakan dalam risalahnya Hukmul Islam fi Wasail Al-I’lam,” Selama kebanyakan program televisi saat ini menjanjikan hal-hal yang meruntuhkan kemuliaan dan menjurus kepada kerusakan, liberalisme, mendorong wanita agar melepas kerudung dan berbaur dengan laik-laki, maka menonton dan mendengarkan program-programnya serta menyaksikan pertunjukan-pertunjukannya tergolong sebesar-besar perbuatan haram dan dosa. Berikut ini kami paparkan dalil-dalilnya kepada Anda :

Pertama, ulama fikih dan para imam mujtahid sepanjang masa dan tempat sepakat bahwa tujuan penetapan syariat Islam adalah lima, yaitu menjaga agama, akal, keturunan, jiwa dan harta. Mereka mengatakan, “ Semua ayat Al-Quran, hadits Nabi dan kaidah ushul yang terkandung dalam syariat bertujuan untuk menjaga lima komponen besar ini. Menimbang bahwa program-program televisi sekarang berupa lagu-lagu seronok, adegan-adegan porno, iklan-iklan yang membangkitkan syahwat, dan film-film yang buruk, berdampak pada runtuhnya kemuliaan, hilangnya kehormatan, merebaknya perzinaan, dan perbuatan keji, maka menonton dan mendengarkannya pun dilarang untuk menjaga nasab dan kehormatan,”

Kedua, Imam Malik dan Daruqutnhi  meriwayatkan dari Abu Sa’id Al-Khudri, bahwa Rasulullah bersabda
“ Tidak boleh ada bahaya dan saling membahayakan.”
Hadits yang mulia ini merupakan kaidah syariat yang paling penting yang ditetapkan oleh fikih dan disimpulkan oleh ulama Ushul. Sebab, semua perintah dan larangan dalam ajaran Islam berporos pada kaidah ini. Selain itu, kaidah ini berimplikasi pada pelarangan apapun yang membahayakan individu, masyarakat, dan moral. Lafaznya memang singkat, namun sarat dengan makna. Menimbang bahwa televisi dengan program-programnya seperti sekarang ini menjuruspada kemerosotan dan keterpurukan moral, juga membangkitkan kecenderungan hasrat dan syahwat dikalangan masyarakat, maka orang Islam dilarang membelinya. Tidak boleh ada televisi dirumahnya untuk menjaga akidah dan ahlak keluarga, memutus rangkaian bahaya yang muncul darinya, dan sebagai implementasi terhadap kaidah, “Tidak boleh ada bahaya dan saling membahayakan.”

ketiga, kaidah  yang diteapkan dalam syariat Islam lainnya adalah tindakan pencegahan (sadduz dzarai’). Maksudnya, pengharaman terhadap sesuatu yang mubah karena berimplikasi pada perkara yang dilarang. Menimbang bahwa menyaksikan acara-acara televisi sekarang ini akan berdampak pada kerusakan dan kebebasan tanpa batas, maka memiliki atau menggunkannya pun dilarang, karena akan menyebabkan kerusakan yang lebih parah dan akhlak yang lebih terpuruk.

Keempat, kebanyakan acara hiburan yang disajikan di layar televise diiringi dengan music, lagu seronok, tarian, dan perilaku tanpa rasa malu. Menimbang bahwa mendengarkan musik dan alat hiburan lainnya dilarang, dan menimbang bahwa melihat para penari wanita dan juga wanita-wanita yang berdandan seksi dapat membangkitkan hasrat dan mengobarkan syahwat, maka memilki televisi hukumnya haram pula. Dengan demikan, menyaksikan acara-acara ini pun haram, karena didalmnya mengandung bahaya yang meruntuhkan pilar-pilar pendidikan dan akhlak.

Subscribe to receive free email updates: