5 Jawaban Mendasar Pertanyaan Anak Tentang Allah

Reportaseterkini.net - Utamanya pada masa emas 0-5 tahun, anak-anak menjalani hidup mereka dengan sebuah potensi menakjubkan, yaitu rasa ingin tahu yang besar. Seiring dengan waktu, potensi ini terus berkembang. Nah, momen paling krusial yang akan dihadapi para orang tua adalah ketika anak bertanya tentang ALLAH. Berhati-hatilah dalam memberikan JAWABAN atas pertanyaan MAHA PENTING ini.


Salah sedikit saja, bisa-bisa secara tak sadar kita telah menanam benih kesyirikan dalam diri buah hati kita. Dan tidak jarang hal tersebut dapat membawa anak ke dalam jurang aqidah yang batil. Untuk itu berhati-hatilah dalam menjawab pertanyaan anak yang super penting ini dan jangan dianggap sepele.

Terlebih lagi, dalam lingkup sekolah dimana si anak belajar dan bermain, seringkali para pengajar keliru dalam memberikan pengajaran dan jawaban yang berujung kepada jalan aqidah di luar ahlussunnah wal jamaah. Nauzubillahi min dzalik, ini sangat berbahaya. Karena sekali aqidahnya melenceng maka berakibat fatal bagi kehidupan anak dan tersesatlah jalannya baik di dunia maupun akhirat.

Untuk itulah, mengajarkan pendidikan aqidah yang benar, aqidah yang lurus, aqidah ahlussunnah wal jamaah tentang Allah kepada anak-anak kita yang dimulai sejak dini adalah hal yang dasar yang menjadi sangat penting. Mengetahui bagaimana cara kita mendidik anak-anak kita agar tahu siapa Allah Subhanahu wa Ta’ala sebenarnya, dan bagaimana cara kita menjawab pertanyaan anak-anak kita mengenai Allah Subhanahu wa Ta’ala, seperti bentuk Allah itu seperti apa, dimana Allah berada, dan sebagainya sudah semestinya diajarkan oleh setiap orang tua kepada anak-anaknya. Jangan sampai anak-anak kita diajari oleh orang lain yang ternyata terjangkit faham aqidah yang menyimpang seperti aqidah mujassimah yang menyamakan Allah dengan makhlukNya.

Berikut kami ketengahkan beberapa pertanyaan yang biasa anak-anak tanyakan kepada orang tuanya:
Pertanyaan 1: “Ayah, Bunda, Allah itu apa sih?”
Pertanyaan 2: “Ayah, Bunda, Bentuk Allah itu seperti apa?”
Pertanyaan 3: “Ayah, Bunda, Kenapa kita gak bisa lihat Allah?”
Pertanyaan 4: “Ayah, Bunda, Allah itu ada di mana?”
Pertanyaan 5: “Ayah, Bunda, Kenapa kita harus nyembah Allah?”

Lalu, bagaimana cara kita menjawab pertanyaan maha penting di atas, dan bagaimana kita mendidik anak-anak kita agar mengenal aqidah yang benar? Mari simak cuplikan pembahasan mengenai hal tersebut yang akan dibahas selanjutnya. Semoga kita, keluargakita, anak-anak dan keturunan kita senantiasa mendapat perlindungan Allah Subhanu wa Ta’ala untuk tetap berada di jalan aqidah yang lurus, aqidah ahlussunnah wal jama'ah.

PERTANYAAN 1: “BU, ALLAH ITU APA SIH?”

Jawablah: “Nak, Allah itu Yang Menciptakan segala-galanya. Langit, bumi, laut, sungai, batu, kucing, cicak, kodok, burung, semuanya, termasuk menciptakan nenek, kakek, ayah, ibu, juga kamu.” (Ucapkan dengan menatap mata anak sambil tersenyum manis).

PERTANYAAN 2: “BU, BENTUK ALLAH ITU SEPERTI APA?”

Jangan jawab begini (jawaban yang keliru): “Bentuk Allah itu seperti anu… ini… atau itu….”, karena jawaban seperti itu pasti salah dan menyesatkan.

Jawablah begini: “Adek tahu ‘kan, bentuk sungai, batu, kucing, kambing,..semuanya.. nah, bentuk Allah itu tidak sama dengan apa pun yang pernah kamu lihat. Sebut saja bentuk apa pun, bentuk Allah itu tidak sama dengan apa yang akan kamu sebutkan.” (Ucapkan dengan menatap mata anak sambil tersenyum manis).

فَاطِرُ ٱلسَّمَـٰوَاتِ وَٱلۡأَرۡضِ‌ۚ جَعَلَ لَكُم مِّنۡ أَنفُسِكُمۡ أَزۡوَاجًا وَمِنَ ٱلۡأَنۡعَـٰمِ أَزۡوَاجًا ‌ۖ يَذۡرَؤُكُمۡ فِيهِ‌ۚ لَيۡسَ كَمِثۡلِهِۦ شَىۡءٌ۬‌ۖ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡبَصِيرُ (١١)

[Dia] Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan-pasangan [pula], dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (Qur’an Surat Asy-Syura: 11).

PERTANYAAN 3: “BU, KENAPA KITA GAK BISA LIHAT ALLAH?”

Jangan jawab begini (jawaban yang keliru): “Karena Allah itu ghaib, artinya barang atau sesuatu yang tidak bisa dilihat dengan mata telanjang”.

Jawaban bahwa Allah itu gaib (semata), jelas bertentangan dengan ayat al-Qur’an:

هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Dialah Yang Awal dan Yang Akhir; Yang Dzahir dan Yang Batin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. (Qur’an Surat Al-Hadid:3).

Dan ini dikhawatirkan, imajinasi anak yang masih polos akan mempersamakan ghaibnya Allah dengan hantu, jin, malaikat, bahkan peri dalam cerita dongeng. Bahwa dalam ilmu Tauhid dinyatakan Allah itu nyata senyata-nyatanya; lebih nyata daripada yang nyata, sudah tidak terbantahkan.

Apalagi jika kita menggunakan diksi (pilihan kata) “barang” dan “sesuatu” yang ditujukan pada Allah. Bukankah sudah jelas dalil al-Qur’an surat Asy-Syura di atas bahwa Allah itu laysa kamitslihi syai’un; Allah itu bukan sesuatu; tidak sama dengan sesuatu; melainkan Pencipta segala sesuatu.

Meskipun segala sesuatu berasal dari Dzat-Sifat-Asma (Nama) dan Af’al (Perbuatan) Allah, tetapi Diri Pribadi Allah itu tidak ber-Dzat, tidak ber-Sifat, tidak ber-Asma, tidak ber-Af’al. Diri Pribadi Allah itu tidak ada yang tahu, bahkan Nabi Muhammad Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam sekali pun. Hanya Allah yang tahu Diri Pribadi-Nya Sendiri dan tidak akan terungkap sampai akhir zaman di dunia dan di akhirat.

إِذۡ يَغۡشَى ٱلسِّدۡرَةَ مَا يَغۡشَىٰ (١٦) مَا زَاغَ ٱلۡبَصَرُ وَمَا طَغَىٰ (١٧)

[Muhammad melihat Jibril] ketika Sidratul Muntaha diliputi oleh sesuatu Yang Meliputinya. Penglihatannya [Muhammad] tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak [pula] melampaui-Nya. (Qur’an Surat An-Najm: 16-17). {ini tafsir dari seorang arif billah, bukan dari saya pribadi. Allahua’lam}

Jawablah begini :

“Mengapa kita tidak bisa melihat Allah?”

Bisa kita jawab dengan balik bertanya padanya (sambil melatih adik comel berpikir retoris )

“Adik bisakah nampak matahari yang terang itu langsung? Tidak ‘kan..karena mata kita bisa jadi buta. Nah,melihat matahari aja kita tak sanggup. Jadi, bagimana kita mau melihat Pencipta matahari itu. Iya ‘kan?!”

PERTANYAAN 4: “BU, ALLAH ITU ADA DI MANA?”

Jangan jawab begini (jawaban yang keliru): “Nak, Allah itu ada di atas.. di langit.. atau di surga atau di Arsy.”

Jawaban seperti itu menyesatkan logika anak karena di luar angkasa tidak ada arah mata angin atas-bawah-kiri-kanan-depan-belakang. Lalu jika Allah ada di langit, apakah di bumi Allah tidak ada? Jika dikatakan di surga, berarti lebih besar surga daripada Allah… berarti prinsip “Allahu Akbar” itu bohong?

ثُمَّ ٱسۡتَوَىٰ عَلَى ٱلۡعَرۡشِ‌ۚ

Dia bersemayam di atas ’Arsy.

Ayat di atas adalah ayat mutasyabihat, yaitu ayat yang wajib dibelokkan tafsirnya. Kalau dalam pelajaran bahasa Indonesia, kita mengenal makna denotatif dan konotatif, nah.. ayat mutasyabihat ini tergolong makna yang konotatif.

Juga jangan jawab begini (jawaban yang keliru): “Nak, Allah itu ada di mana-mana.”

Dikhawatirkan anak akan otomatis berpikiran Allah itu banyak dan terbagi-bagi, seperti para freemason atau politeis Yunani Kuno.

Jawablah begini:

“Nak, Allah itu dekat dengan kita. Allah itu selalu ada di hati setiap orang yang shaleh, termasuk di hati kamu, Sayang. Jadi, Allah selalu ada bersamamu di mana pun kamu berada.”

“Qalbun mukmin baitullah”, ‘Hati seorang mukmin itu istana Allah.” (al-Hadits).

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُواْ لِي وَلْيُؤْمِنُواْ بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat.(Qur’an Surat Al-Baqarah : 186).

وَهُوَ مَعَكُمۡ أَيۡنَ مَا كُنتُمۡ‌ۚ

Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. (Qur’an Surat Al-Hadiid: 4)

وَلِلّهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُ فَأَيْنَمَا تُوَلُّواْ فَثَمَّ وَجْهُ اللّهِ

Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka kemanapun kamu menghadap di situlah wajah Allah. (Qur’an Surat Al-Baqarah: 115).

“Allah sering lho bicara sama kita.. misalnya, kalau kamu teringat untuk bantu Ibu dan Ayah, tidak berantem sama kakak, adek atau teman, tidak malas belajar, tidak susah disuruh makan,..nah, itulah bisikan Allah untukmu, Sayang.” (Ucapkan dengan menatap mata anak sambil tersenyum manis).

وَٱللَّهُ يَهۡدِى مَن يَشَآءُ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُّسۡتَقِيمٍ

Dan Allah selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus. (Qur’an Surat Al-Baqarah: 213)

PERTANYAAN 5: “BU, KENAPA KITA HARUS MENYEMBAH ALLAH?”

Jangan jawab begini (jawaban yang keliru): “Karena kalau kamu tidak menyembah Allah, kamu akan dimasukkan ke neraka. Kalau kamu menyembah Allah, kamu akan dimasukkan ke surga.”

Jawaban seperti ini akan membentuk paradigma (pola pikir) pamrih dalam beribadah kepada Allah bahkan menjadi benih syirik halus (khafi). Hal ini juga yang menyebabkan banyak orang menjadi ateis karena menurut akal mereka, ”Masak sama Allah kayak dagang aja! Yang namanya Allah itu berarti butuh penyembahan! Allah kayak anak kecil aja, kalau diturutin maunya, surga; kalau gak diturutin, neraka!!”

“Orang yang menyembah surga, ia mendambakan kenikmatannya, bukan mengharap Penciptanya. Orang yang menyembah neraka, ia takut kepada neraka, bukan takut kepada Penciptanya.” (Syaikh Abdul Qadir al-Jailani)

Jawablah begini:

“Nak, kita menyembah Allah sebagai wujud bersyukur karena Allah Subhanau wa Ta’ala telah memberikan banyak kebaikan dan kemudahan buat kita. Contohnya, Adek sekarang bisa bernafas menghirup udara bebas, gratis lagi.. kalau mesti bayar, ‘kan Ayah sama Ibu gak akan bisa bayar. Di sungai banyak ikan yang bisa kita pancing untuk makan, atau untuk dijadikan ikan hias di akuarium. Semua untuk kesenangan kita.

Kalau Adek gak nyembah Allah, Adek yang rugi, bukan Allah. Misalnya, kalau Adek gak nurut sama ibu-bapak guru di sekolah, Adek sendiri yang rugi, nilai Adek jadi jelek. Isi rapor jadi kebakaran semua. Ibu-bapak guru tetap saja guru, biar pun kamu dan teman-temanmu gak nurut sama ibu-bapak guru.” (Ucapkan dengan menatap mata anak sambil tersenyum manis).

إِنَّ ٱللَّهَ لَغَنِىٌّ عَنِ ٱلۡعَـٰلَمِينَ

Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya [tidak memerlukan sesuatu] dari semesta alam. (Qur’an Surat Al-Ankabut: 6).

Katakan juga pada anak:

“Adek mulai sekarang harus belajar cinta sama Allah, lebih daripada cinta sama Ayah-Ibu, ya?!” (Ucapkan dengan menatap mata anak sambil tersenyum manis).

“Kenapa, Bu?”

“Karena suatu hari Ayah sama Ibu bisa meninggal dunia, sedangkan Allah tidak pernah mati. Nah, kalau suatu hari Ayah atau Ibu meninggal, kamu tidak boleh merasa kesepian karena Allah selalu ada untuk kamu. Nanti, Allah juga akan mendatangkan orang-orang baik yang sayang sama Adek seperti sayangnya Ayah sama Ibu. Misalnya, Paman, Bibi, atau para tetangga yang baik hati, juga teman-temanmu.”

Dan mulai sekarang rajin-rajin belajar Iqra supaya nanti bisa mengaji Quran. Mengaji Quran artinya kita berbicara sama Allah. (Ucapkan dengan menatap mata anak sambil tersenyum manis). [reportaseterkini.net]

Allahu a’lam.

Subscribe to receive free email updates: